JAKARTA, investor.id - Realisasi kinerja keuangan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sepanjang 2020 telah sesuai ekspektasi, meskipun laba bersih turun signifikan. Tahun ini, kinerja perseroan diyakini jauh lebih baik seiring pemulihan ekonomi, dengan perkiraan lonjakan laba bersih.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Lee Young Jun mengungkapkan, realisasi kinerja keuangan Bank Mandiri pada 2020 justru lebih baik dibandingkan perkiraan. Tahun lalu, Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 17,12 triliun, terkoreksi 37,71% secara tahunan (year on year/yoy).
“Realisasi keuntungan justru lebih tinggi dari proyeksi kami dan konsensus analis,” tulis dia dalam risetnya. Realisasi laba bersih perseroan setara dengan 114% dari proyeksi Mirae Asset Sekuritas untuk tahun 2020 dan mencapai 102% dari consensus analis.
Bahkan, data perseroan menunjukkan bahwa perbaikan terlihat dari peningkatan pendapatan pada kuartal IV-2020 dibandingkan kuartal III-2020. Namun, menurut dia, biaya provisi yang tetap tinggi atau paling tinggi sepanjang tahun 2020 menjadi pemicu utama besarnya penurunan keuntungan perseroan tahun lalu.
Tahun ini, manajemen Bank Mandiri telah menunjukkan sikap optimistis dengan perkiraan pertumbuhan kredit sebesar satu digit dan marjin bunga bersih (net interest margin/ NIM) lebih baik. Meski demikian, Young Jun merevisi turun target harga saham BMRI dari buy menjadi trading buy. Target hargaBMRI dipatok Rp 8.230 untuk12 bulan ke depan. Target harga tersebut mengimplikasikan perkiraan PBV sekitar 1,7 kali. Target tersebut juga mempertimbangkan kinerja keuangan perseroan yang bakal lebih baik sepanjang tahun ini.
Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Eka Savitri juga mengungkapkan, realisasi kinerja keuangan Bank Mandiri tahun 2020 sudah sesuai harapan, seperti penurunan kredit sekitar 1,6% dan NIM menjadi 4,6%. “Kami menilai bahwa seluruh indikator perseroan sepanjang tahun 2020 sudah sesuai dengan harapan,” tulis dia dalam risetnya.
Melihat realisasi tahun lalu dan ekspektasi ekonomi yang lebih baik tahun 2021, dia memproyeksikan pertumbuhan kredit Bank Mandiri sebesar 4,8%, perkiraan peningkatan NIM sekitar 20bps menjadi 4,8%, dan biaya kredit menjadi 227 bps sudah paling tepat. Perseroan juga memberikan perkiraan bahwa rasio pembagian dividen akan mencapai 60%.
Kinerja keuangan tahun lalu yang sesuai ekspektasi tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BMRI dengan target harga Rp 8.000. Target harga tersebut mengimplikasikan perkiraan PBV tahun ini sekitar 1,9 kali dan ROE dalam jangka panjang mencapai 3%.
Target harga tersebut juga mempertimbangkan peningkatan laba bersih Bank Mandiri menjadi Rp 24,88 triliun tahun ini. Begitu juga laba sebelum provisi diharapkan meningkat menjadi Rp 52,78 triliun.
Sedangkan laba per saham diharapkan meningkat menjadi Rp 533,33 sepanjang 2021.
Tumbuh 15%
Tahun ini, Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan laba sekitar 15% dibandingkan 2020. Target tersebut seiring dengan perkiraan adanya perbaikan ekonomi yang terjadi pada 2021.
Adapun sepanjang tahun 2020 laba bersih Bank Mandiri secara konsolidasian sebesar Rp 17,12 triliun, menurun 37,71% secara tahunan. Penurunan laba tersebut karena perseroan melakukan restrukturisasi kredit kepada debitur terdampak Covid-19, sehingga pendapatan Bank Mandiri juga berkurang “Dari sisi rentabilitas, profitability, dengan kualitas aset, kita target profit (tumbuh) 15% dibanding apa yang kita capai pada 2020,” ungkap Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR, baru-baru ini.
Dia meyakini tahun ini akan terjadi perbaikan kinerja industri perbankan, khususnya Bank Mandiri. Menurut dia, tahun 2020 merupakan tahun terberat yang dialami oleh industri perbankan, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di hampir seluruh negara di dunia, namun industri perbankan di Indonesia berhasil melewati tantangan tersebut.
“Industri perbankan Indonesia terbukti masih solid, dengan kualitas aset yang terjaga, likuiditas yang ample, serta kondisi permodalan yang sangat sehat. Kami percaya bahwa dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, kinerja industri perbankan juga akan membaik, baik dari sisi pertumbuhan kredit, profitabilitas, dan juga kualitas aset,” terang Darmawan.
Sementara itu, untuk pertumbuhan kredit tahun 2021 diharapkan sekitar 6% (yoy). Penyaluran kredit juga akan difokuskan pada segmen kom ersial yang merupakan core business Bank Mandiri.
“Kami melihatnya seperti ini, potensi tumbuh bukan hanya dari market statis, kita lihatnya dinamis. Karena 2020 low based, sementara core competence ada planning untuk tumbuhkan perkreditan dan value chain,” jelas dia.
Bank Mandiri selain menyasar pada segmen korporasi, juga akan masuk kepada value chain dari berbagai segmen, sebagai akselerasi penyaluran kredit.
“Pada 2021 memang kami ada tiga besaran core competence Bank Mandiri, value chain di korporasi dan komersial, supaya value chain tersebut bisa kami layani agar ekosistem value chain dari retail banking yang kita support, kemudian SME, mikro, konsumer dan individual ikut masuk,” papar Darmawan.
Pada rencana bisnis bank (RBB) tahun 2021, pertumbuhan ritel, UKM, dan mikro disebut Darmawan akan lebih tinggi atau menjadi pendorong pertumbuhan kredit Bank Mandiri. “Ritel, SME, dan mikro lebih tinggi 8,6%, sementara wholesale lebih rendah dari retail sebesar 4,4%,” ujar dia.
Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)
Sumber : Investor Daily
Berita Terkait