EmitenNews.com - Kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus menekan pasar modal domestik.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung anjlok hingga sempat minus 2,32 persen ke level 8.044,15 pada pembukaan perdagangan Senin (2/3/2026), mengingat respons panik investor terhadap risiko global yang makin tinggi dan ketidakpastian pasar.
Sentimen negatif itu sebagian dipicu konflik yang berlangsung setelah serangan militer bersama AS dan Israel ke Iran telah mendorong harga minyak melonjak tajam.
Tekanan eksternal ini akhirnya merembet ke pasar saham Asia yang lebih luas, dengan investor berbalik menjual aset berisiko (seperti saham) dan mengalihkan modal ke aset aman (safe haven) seperti emas.
Menanggapi dinamika tersebut, Penjabat Sementara (Pjs.) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, mengimbau agar pelaku pasar tak semata bereaksi terhadap headline geopolitik.
“Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental,” katanya, menekankan pentingnya fokus pada kinerja korporasi dan risiko jangka panjang.
Jeffrey juga memberikan pesan persuasif lain mengingat adanya risiko dan dampak dari situasi geopolitik ini, “Sesuaikan strategi investasi (Anda) dengan toleransi risiko masing-masing.” (*)