Equity Brokerage
Melanjutkan kenaikan pada tahun sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencatat hasil yang mengesankan pada tahun 2010. Kembali menjadi salah satu negara dengan tingkat kenaikan indeks bursa tertinggi di dunia, IHSG tahun ini ditutup pada level 3.703,512, atau melonjak sebesar 46,13% dibanding penutupan tahun 2009 yang sebesar 2.534,356.
Dengan total 420 emiten yang melantai di Bursa, total kapitalisasi mencapai rekornya pada akhir tahun 2010 ini, yakni sebesar Rp 3.247,097 trilliun. Seiring dengan lonjakan indeks, rata-rata nilai transaksi per hari pun terus meningkat hingga mencapai Rp 4.801 trilliun.
Kinclongnya IHSG tak terlepas dari membaiknya hampir seluruh indikator makro ekonomi Indonesia. Sejak krisis global 2008, pada tahun 2010 ini, nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat untuk pertama kalinya tercatat di bawah Rp 9.000,-, yaitu tepatnya pada level Rp 8.978,- pada akhir Desember. Hampir sepanjang tahun, Bank Indonesia (BI) berhasil menjaga tingkat Suku Bunga BI pada angka 6,50%. BI dengan sangat percaya diri mempertahankan rate SBI tersebut, walaupun inflasi 2010 tercatat sebesar 6,96%. Cadangan devisa dari bulan ke bulan terus mencetak rekor sejarah baru, di mana per akhir tahun tercatat sebesar 96,207 milyar USD.
Indonesia sekali lagi mencatatkan diri sebagai salah satu negara berkembang dengan tingkat pertumbuhan tertinggi di dunia, di samping China dan India. Berita gembira di penghujung tahun didapatkan dari lembaga pemeringkat internasional yang menaikkan peringkat Indonesia, persis satu level lagi di bawah investment grade.
Tahun 2010, Reliance tetap berhasil mempertahankan rata-rata transaksi per hari di atas Rp 100 milyar. Sedikit turun di banding tahun sebelumnya, tahun ini transaksi Perseroan tercatat sebesar Rp 27,842 trilliun atau berkisar rata-rata Rp 113,639 milyar per hari, turun 3 % dibanding tahun lalu yang sebesar Rp 28,141 trilliun atau Rp 116,771 milyar per hari.
Lonjakan indeks akibat kenaikan harga saham yang diperdagangkan, menyebabkan volume transaksi Reliance turun sebesar 11%, seperti halnya juga BEI mencatatkan penurunan volume transaksi sebesar 12% pada tahun 2010.
Namun yang menarik adalah bahwa secara frekuensi transaksi naik 28% (dibanding dengan BEI yang hanya naik 7 %), dari 771,287 kali pada tahun 2009 (3,200 per hari) menjadi 1,006,773 kali pada tahun 2010 (4,109 per hari). Kenaikan ini menunjukkan mulai terjadinya pemerataan transaksi ke lebih banyak nasabah Perseroan, seiring mulai meningkatnya pemakaian fasilitas online trading oleh nasabah, baik pada existing clients maupun para new clients.
Relitrade fasilitas online trading Reliance yang secara resmi diluncurkan pada tanggal 22 Februari 2010, memberikan kontribusi nilai transaksi mencapai 14,47%, atau sebesar Rp 4.060,022 milyar dari total transaksi Perseroan Rp 28.050,952 milyar sepanjang tahun 2010.
Sejalan dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun 2010 ini pun Perseroan terus melebarkan sayapnya melalui pembukaan kantor-kantor perwakilan dan galeri investasi di beberapa lokasi. Di awal tahun, dibuka sekaligus 2 (dua) Pojok Bursa dan Galeri Investasi di kota Malang. Pojok Bursa dan Galeri Investasi di Universitas Brawijaya dan STIE Malangkucecwara ini merupakan kerjasama Perseroan dengan pihak perguruan tinggi dan PT Bursa Efek Indonesia. Sedangkan penambahan kantor perwakilan dilakukan di lokasi Jakarta-Taman Mini, Surakarta, dan Tangerang-BSD.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Reliance selalu mengaitkan penerbitan Surat Berharga Negara di mana Reliance bertindak sebagai Agen Penjual dengan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) yang mengusung kecintaan pada alam. Pada penerbitan Sukuk Negara Ritel seri SR002, Reliance menyelenggarakan kegiatan CSR bertema Restorasi Habitat Badak Bercula Satu, bekerjasama dengan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Pada penerbitan Obligasi Ritel seri ORI007, tema yang diusung oleh Reliance adalah ORI007 untuk Kearifan Tradisi Suku Dayak, dan donasi dilakukan terhadap masyarakat Dayak yang tinggal di kawasan sekitar Taman Nasional Betung Kerihun, Kalimantan Barat. Demikian juga peluncuran fasilitas online trading ReliTrade, tema CSR yang diusung adalah 1,7% selama 17 minggu untuk bumi Indonesia. Untuk seluruh inisiatif kecintaan pada lingkungan yang dilakukan Reliance, Reliance meraih penghargaan Best CSR for Indonesia Awards 2010, kategori CSR Kehutanan, yang diberikan oleh Majalah Bisnis & CSR.
Fixed Income Trading
Usaha meningkatkan pertumbuhan kondisi perekonomian negara-negara Eropa dan Amerika melalui kebijakan tingkat suku bunga rendah telah mendorong masuknya aliran dana investasi ke negara-negara di kawasan Asia Timur. Aliran dana yang masuk ke pasar Asia diperkirakan mencapai USD 850 milyar, lebih tinggi dari tahun 2009 yang mencapai USD 581 milyar. Derasnya aliran dana asing masuk ke Indonesia pada tahun 2010 telah menekan turunnya yield dari kisaran 8,95% - 10,92% menjadi 6,9% - 9,6% yang menyebabkan imbal hasil SUN tidak jauh dari suku bunga acuan BI Rate yaitu 6,5%. Sementara itu porsi kepemilikan asing terus meningkat dari +/- 20% pada kuartal pertama tahun 2010 dan mencapai Rp 191,99 triliun pada akhir bulan Oktober 2010 atau +/- 30% dari total (Rupiah) obligasi pemerintah RI dengan prosentase jumlah kepemilikan asing mencapai 18%, tertinggi dibandingkan dengan Malaysia dan Korea yang mencapai 9%.
Sentimen bailout hutang Yunani yang terjadi pada bulan Mei 2010 mengakibatkan investor asing melakukan penarikan dana dari emerging market dan menginvestasikan dananya pada investasi yang relatif aman seperti dolar dan surat utang Pemerintah AS. Namun demikian sentimen positif peningkatan peringkat Indonesia oleh Moody's menjadi Ba2 telah memperkuat nilai tukar rupiah dan membawa arus balik modal pada bulan berikutnya.
Membaiknya pasar surat hutang dalam negeri mendorong pertumbuhan usaha Divisi Pendapatan Tetap. Nilai transaksi Divisi Pendapatan Tetap selama tahun 2010 meningkat 181,5% dari Rp 662,74 milyar menjadi Rp 1.865,62 milyar. Pendapatan pun meningkat 76.5% seiring kenaikan transaksi tersebut menjadi Rp 2,448 milyar di tahun 2010.
Tahun 2010 dimulai dengan keikutsertaan Reliance sebagai Agen Penjual pada penerbitan Sukuk Negara Ritel seri SR002. SR002 yang terbit dengan imbal hasil ijarah 8,75% per tahun tersebut diminati oleh investor sehingga Pemerintah terpaksa membatasi jumlah penerbitannya, dan penjualan Reliance saat itu pun dibatasi Rp 150 milyar. Namun demikian, Reliance adalah satu-satunya agen penjual yang mengaitkan penjualan Sukuk Negara Ritel tersebut dengan kegiatan perlindungan terhadap habitat hewan yang dilindungi, yaitu badak bercula satu.
Pada semester kedua tahun ini, Reliance kembali dipercaya sebagai Agen Penjual Obligasi Negara Ritel seri SR007. Penjualan ORI007 melalui Reliance mencapai Rp 261 milyar, dan kembali melalui penerbitan ORI007 Reliance melaksanakan komitmen berupa adopsi 2.610 bibit pohon selama 3 tahun dan 5 buah perahu (longboat) di Taman Nasional Betung Kerihun Kalimantan Barat.
Selain bahwa pendapatan dari kedua penerbitan surat utang negara tersebut secara konsisten melengkapi pendapatan dari transaksi obligasi kami, penjualan kedua instrumen negara tersebut menguatkan citra Reliance sebagai perusahaan sekuritas yang dipercaya oleh Pemerintah, dan semakin melebarkan jaringan kerja Reliance dengan sub-sub agen penjual dari berbagai lembaga dan instansi.
Beberapa kebijakan baru di Divisi Pendapatan Tetap dilaksanakan. Reliance mempertimbangkan dan mempersiapkan kepemilikan portofolio efek berpendapatan tetap untuk mendukung transaksi obligasi sekaligus menciptakan sumber peluang keuntungan baru bagi Divisi Treasury. Demikian juga selama tahun 2010 kerjasama dengan bank-bank lokal dan asing ditingkatkan. Fasilitas intraday bagi Reliance bertambah, dan jalur-jalur baru dibuka. Diharapkan dengan membaiknya kualitas sumber daya manusia, terbangunnya infrastruktur yang lebih baik, dan keleluasaan dalam menangani portofolio efek berpendapatan tetap, Divisi Pendapatan Tetap semakin dapat memberikan kontribusi positif untuk Perusahaan.
Corporate Finance
Setelah melewati masa-masa krisis aksi korporasi pada tahun 2009, pasar modal di tahun 2010 marak dengan kegiatan-kegiatan IPO, right issue, maupun penerbitan surat hutang. Apalagi dengan suku bunga bank yang tidak kunjung turun, pelaku pasar lebih melirik pasar modal untuk sumber pendanaan.
Sepanjang tahun 2010, Reliance semakin aktif dalam keikutsertaan sindikasi penjamin emisi efek. Dari total 23 IPO pada tahun 2010, Reliance berpartisipasi dalam 10 di antaranya, dengan total sindikasi penjaminan sebesar Rp 11,08 milyar. Namun demikian nilai penjaminan ini menurun dibandingkan dengan nilai penjaminan IPO pada tahun 2009 yang mencapai Rp 31,144 milyar dengan jumlah keikutsertaan yang lebih sedikit. Divisi Investment Banking pun masih dapat mempertahankan pendapatan di level Rp 2,19 milyar walaupun sedikit turun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 2,60 milyar.
Angka penjaminan tersebut masih jauh lebih rendah dari kapasitas penjaminan yang telah disiapkan oleh Perusahaan. Untuk itu pada tahun-tahun berikutnya, Reliance akan lebih aktif lagi dalam membantu perusahaan-perusahaan yang ingin mencari sumber pendanaan melalui pasar modal melalui Penawaran Umum baik berbentuk saham maupun surat hutang, yang pada akhirnya memberikan peluang bagi Divisi Investment Banking untuk meraih pendapatan melalui jasa penjaminan (underwriting) maupun jasa sebagai penasehat keuangan (financial advisor).
Selain melakukan aktifitas penjaminan (underwriting), Divisi Investment Banking juga melakukan aktifitas sebagai Penasehat dan Pelaksana Divestasi PT Bekasi Power, yang pada awal tahun 2010 berhasil diselesaikan.
Asset Management
Selama tahun 2010, reksa dana saham menunjukkan kinerja yang sangat baik, sejalan dengan pergerakan IHSG yang terus memperlihatkan trend bullish. Di awal tahun 2010, IHSG berada pada kisaran 2.533, terus mengalami rally hingga mencapai kisaran 3.700 pada akhir tahun. Bila dilihat dari pergerakan indeks tersebut, IHSG mengalami peningkatan kinerja sekitar 46,13%. Kinerja reksa dana saham yang memiliki korelasi positif dengan kinerja IHSG, seharusnya tidak akan terlalu jauh bergerak dari kisaran prosentase kinerja IHSG tersebut.
Sementara dilihat dari total dana kelolaan atau total Asset Under Management (AUM) reksa dana yang mencapai Rp 146 triliun, mengalami pertumbuhan sebesar 32,88%, bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Demikian pula dengan pertumbuhan unit penyertaan reksa dana yang mencapai 17,39%, yang saat ini mencapai 81.5 juta unit penyertaan. Hal ini mengindikasikan bahwa produk reksa dana masih menjadi alternatif investasi bagi masyarakat.
Produk Reksa Dana Reliance Equity Fund (REF) yang dikelola PT Reliance Asset Management juga tidak luput dari pengaruh pergerakan bullish dari IHSG. Di awal tahun 2010, Nilai Aktiva Bersih (NAV) dari produk Reksa Dana REF yang sebelumnya berada pada level 1.419, terus mengalami kenaikan seiring dengan peningkatan IHSG hingga ditutup pada level 1.900 di bulan Desember 2010.
Korelasi positif yang ditunjukkan oleh kinerja IHSG dan kinerja Reksa Dana REF, memberi kami keyakinan bahwa kinerja Reksa Dana REF di tahun 2011, masih akan terus bertumbuh, seiring dengan pergerakan market yang diprediksi masih berada di jalur positif. Reksa Dana REF menjadi salah satu alternatif investasi yang direkomendasikan kepada nasabah Perusahaan karena dapat memberikan keuntungan berarti bagi nasabah.
Tahun 2010 merupakan tahun konsolidasi bagi PT Reliance Asset Management dalam rangka memenuhi ketentuan dan peraturan pasar modal yang berlaku. Pemenuhan peraturan V.D.11 mengenai 10 (sepuluh) fungsi-fungsi dalam manajer investasi, pemenuhan ketentuan permodalan dan peningkatan Asset Under Management (AUM) Reksa Dana Reliance Equity Fund menjadi skala prioritas. Namun demikian, pada semester kedua tahun ini PT Reliance Asset Management tidak dapat dengan leluasa melakukan aktifitas pemasaran, dikarenakan tidak tercukupinya jumlah Direksi sesuai dengan Anggaran Dasar Perusahaan. Akibatnya perkembangan bisnis manajer investasi dan pengembangan produk Reksa Dana Reliance Equity Fund serta produk investasi lainnya, belum berjalan dengan baik. Namun demikian sampai dengan laporan ini dibuat, PT Reliance Asset Management sudah memenuhi persyaratan tersebut dan beraktifitas normal.
Research
Divisi Riset memiliki peranan penting dalam mengembalikan kepercayaan nasabah pada pasar modal, khususnya setelah trauma krisis tahun 2008 dan fluktuasinya di tahun 2009. Produk riset yang diterbitkan semakin menjadi referensi bagi nasabah maupun broker/sales dalam menentukan keputusan investasi. Produk-produk riset tersebut memang dibuat lengkap dan menyeluruh mencakup mengenai perkembangan makroekonomi, pasar saham, pasar obligasi, dan pasar komoditas baik secara global maupun nasional dan laporan teknikal atas berbagai perusahaan yang tercatat di bursa efek, dalam bentuk Daily Insight, Over the Horizon, Stock Focus, Industry Sector Report, Monthly Strategies, Special Report, Technical Report, dan Market Outlook.
Setelah pada tahun 2009 Divisi Riset menata profil produk dan sistem distribusinya, tahun 2010 dimanfaatkan untuk meningkatkan kedisiplinan penyampaian produk riset tersebut kepada tenaga pemasar maupun nasabah. Daily Insight, produk riset harian yang setiap pagi diterbitkan, dibuat lebih kompak dan informatif untuk kepentingan trading harian, dan disampaikan lebih pagi, bahkan sebelum pukul 07.00 WIB setiap harinya. Setiap pagi sebelum dimulainya jam perdagangan, diskusi antar kantor perwakilan dengan riset melalui conference call juga menjadi ?sarapan? yang ditunggu-tunggu oleh para pialang dan sales. Demikian juga dengan Stock Focus yang membahas secara mendalam sebuah Emiten, secara disiplin diproduksi minimal 2 laporan setiap bulannya. Kehadiran fasilitas online trading ReliTrade turut memacu Divisi Riset melakukan update berita secara real-time dan terus menerus, baik melalui website www.relitrade.com maupun secara interaktif melalui forum.
Untuk meningkatkan kualitas analisa, tim di Divisi Riset diperkuat dengan kursus-kursus terkait dengan analisa pasar modal dan penambahan buku-buku dan media finansial. Divisi Riset juga memulai menerbitkan produk riset dalam bahasa Inggris walaupun belum merupakan rutinitas.
Divisi Riset juga membangun imej dan kepercayaan nasabah lewat analisis riset yang kerap dipublikasikan melalui media cetak, muncul sebagai narasumber pada media radio, dan bahkan media televisi. Dengan bertambahnya kantor perwakilan, Divisi Riset pun semakin aktif dalam melakukan pertemuan dengan nasabah di kota-kota di lokasi kantor perwakilan. Tim dalam Divisi Riset pun turut melakukan sosialisasi pasar modal dan edukasi kepada masyarakat melalui pelatihan-pelatihan pasar modal yang diselenggarakan bersama-sama dengan Bursa Efek Indonesia, atau yang diselenggarakan bersama-sama dengan Pojok BEI.