EQUITY MARKET:
Kecemasan atas melambatnya pertumbuhan ekonomi membuat pasar saham dunia lesu dan mendongkrak daya tarik aset safe haven seperti emas, USD, JPY dan US Treasury. Indeks MSCI World turun dari level 1,103.6 menjadi 1,093.8, terendah dalam 1 bulan terakhir.
Namun, kecemasan tersebut belum sampai menghentikan arus dana ke pasar saham Emerging Market. Indeks MSCI Emerging Market menguat 0.78% ke level 988.2 dari 980.5. Indeks MSCI Asia Pasifik menguat tipis (0.36%) dari level 117.9 ke level 118.3.
FTSE100 tergelincir 80.2 poin (-1.5%) ke level 5,195.3.
Sementara CAC40 anjlok lebih parah lagi (-2.3%) ke level 3,526 sehingga secara YTD, CAC40 sudah menyusut 10.4%. Minggu ini FTSE100 masih berpotensi melanjutkan pelemahan dan berada dalam trading range 5,175 -5,320.
Melanjutkan kejatuhan 4.% pada minggu sebelumnya, Nikkei225 kehilangan 74 poin (-0.8%) ke level 9,179.4 di dorong oleh apresiasi JPY dan rendahnya pertumbuhan Q2 GDP Jepang. Minggu ini Nikkei225 masih berpotensi melemah karena JPY yang masih berpeluang menguat dan berada di kisaran 9,010 ? 9,228.
Bertambah 64.7 poin, IHSG minggu lalu kembali mencatatkan level penutupan tertinggi dalam sejarahnya (3,117.7). Indeks saham Blue Chips LQ45 naik 12.23 poin (2.11%) dari 579.9 menjadi 592.2. Investor asing membukukan net buy sebesar Rp.1,99 triliun.
Kenaikan IHSG di motori oleh melonjaknya harga dari saham saham pada sektor Industri Dasar (6.61%), Consumer Goods (4.76%), Manufaktur (4.18%) dan Infrastruktur (2.74%). Kami melihat Indeks cukup rentan terhadap aksi profit taking minggu ini sehingga bergerak melemah dan berada di kisaran 3,032 -3,110.
Indeks saham utama di Wall Street minggu lalu di tutup mixed seiring meningkatnya jumlah orang yang untuk pertama kalinya mengajukan klaim pengangguran (Initial Jobless Claims) dan terpuruknya aktifitas manufaktur di wilayah Philadelphia, indikasi bahwa rebound pada pertumbuhan profitabilitas para emiten tidak bisa di pertahankan (unsustainable).
DJIA terjatuh 89.5 poin (-0.87%) ke level 10,213.6 sementara NASDAQ berhasil menguat tipis 6.3 poin (0.29%) ke level 2,179.8 setelah anjlok 5% pada minggu sebelumnya. S&P500 mundur 7.6 poin (-0.70%) ke level 1,071.7. Meskipun minggu lalu turun 2.9%, di banding dengan akhir bulan Juli, nilai VIX masih naik 8.5%, tanda tingkat kecemasan investor yang masih cukup tinggi.
Minggu ini investor akan menantikan sejumlah data ekonomi yang meliputi angka penjualan rumah, pemesanan barang barang tahan lama, indeks sentimen konsumen dan perhitungan Q2 GDP (tabel 1).
Mengingat pentingnya data data tersebut dalam membuat penilaian terhadap prospek ekonomi, DJIA minggu ini kami prediksi akan bergerak cenderung melemah dan berada di kisaran 10,141 ? 10,371
GOLD:
Harga kontrak berjangka emas untuk bulan Desember 2010 naik 1% dari $1,216.6 per troy ounce menjadi $1,228.8 per troy ounce, sehingga memperpanjang rally menjadi 3 minggu berturt turut.
Data COT CFTC tanggal 17 Agustus menunjukkan bahwa jumlah Open Interest (OI) sebanyak 743,672 kontrak, tertinggi sejak 20 Juli 2010 akibat timbulnya kembali flight to quality karena investor yang merasa pesimis terhadap prospek pemulihan ekonomi AS. Net Long Position dari spekulator (funds) naik 9.14% sedangkan net short dari produser (commercials) bertambah 9.50% (chart 3).
Permintaan fisik atas emas pada bulan Agustus selalu mengalami lonjakan, terutama dari India. Para penjual/toko emas di India selalu menambah persediaan mereka memasuki musim festival di India yang di awali oleh Raksha Bandhan pada 24 Agustus, di susul oleh Dhanteras pada bulan November.
Harga emas minggu ini masih berpotensi menguat dan berada di kisaran $1,214 - $1,237.
CRUDE OIL:
Harga kontrak berjangka minyak mentah untuk bulan Oktober 2010 turun 2.57% dari $75.77/barel menjadi $73.82/barel (chart 4), terendah dalam 6 minggu akibat tingginya kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi AS, negara pemakai minyak mentah terbesar di dunia, akan mengalami perlambatan.
Harga minyak mengabaikan data DOE tanggal 13 Agustus yang menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS di Cushin, Oklahoma turun 1.82%.
Data COT CFTC tanggal 17 Agusuts menunjukkan bahwa jumlah Open Interest (OI) terpangkas 2.99% dari 2,62 juta kontrak menjadi 2,54 juta kontrak (chart 4).
Net Long Position dari Spekulator besar menyusut 2.37% dari 153,696 kontrak menjadi 150,053 kontrak. Penurunan pada jumlah OI dan Net Long dari spekulator besar merefleksikan adanya aliran dana yang keluar dari pasar minyak.
Untuk minggu ini, kami melihat harga minyak akan bergerak dalam kisaran $72.90-$75.50 per barel.
COAL:
Harga batubara yang di kirim melalui pelabuhan Newcastle, Australia minggu lalu naik dari $86.95/MT menjadi $87.79/MT. Sebaliknya, harga batubara yang di kirim melalui pelabuhan Richard Bay, Afrika Selatan turun dari $87.30/MT menjadi $86.22/MT.
Pelabuhan Richard Bay mengirimkan 2.1 juta ton batubara ke India pada bulan Juli, hampir dua kali lipat dari volume pengiriman pada bulan Juni yang sebesar 1.2 juta ton. Impor batubara China dari Afrika Selatan juga naik jadi 1 juta ton pada bulan Juli, dari 720,000 ton pada bulan Juni.
TIN:
Harga kontrak berjangka 3 bulan Timah di LME minggu lalu turun 0.72% dari $20,800/MT menjadi $20,650/MT seiring dengan bertambahnya tumpukan persediaan pada gudang gudang yang berada di bawah monitor LME. Selama bulan Agusuts ini, harga kontrak Timah masih tumbuh 5.9% meskipun jumlah Open Interest semakin berkurang (Chart 6).
Backwardation pada Forward Curve Timah melebar dari $570 menjadi $755.
Volume persediaan (Inventory) Timah naik dari 13.9 ton menjadi 14.4 ton sedangkan jumlah rata rata Cancelled Warrants turun dari 7.47% menjadi 3.75% dari total persediaan.
Produksi Timah Indonesia, negara pengekspor Timah terbesar di dunia, tahun ini akan menyusut 20% akibat curah hujan yang besar mengganggu produksi. Berkurangnya supply dari Indnesia untuk jangka menengah akan memberi dorongan ekstra bagi rally harga Timah yang berlangsung sejak Juni 2010.
Minggu ini harga kontrak Timah masih berpotensi untuk terus turun dan berada di kisaran $20,550/MT - $20,825/MT.
NICKEL:
Harga kontrak berjangka 3 bulan Nickel di LME naik 1.29% dari $21,275/MT menjadi $21,550/MT (chart 8).
Setelah beberapa pekan stabil pada level 117 ton, volume persediaan Nickel minggu lalu akhirnya turun menjadi 116,34 ton.
Jumlah rata rata Cancelled Warrants turun dari 4.05% menjadi 3.72% dari total persediaan Nickel (Chart 9), terendah sejak awal Juni 2010.
Bakwardation pada Forward Curve Nickel minggu lalu melebar dari $714.5 menjadi $977 (Chart 10).
Harga Nickel minggu ini kami prediksi masih berpeluang untuk menguat dan berada di kisaran $21,250/MT-$22,275/MT.
CURRENCIES:
Dollar Index, yang di gunakan untuk memonitor nilai tukar USD terhadap 6 mata uang utama di dunia, minggu lalu naik dari level 82.95 ke level 83.06, tertinggi sejak 14 Juli 2010 (chart 11) akibat merebaknya flight to quality. USD and JPY mengalami apresiasi karena investor mencari perlindungan pada aset safe haven.
Setelah berada di atas level 1.2800 selama 4 hari, nilai tukar EUR terhadap USD kembali melemah ke level 1.2712. Pelemahan EUR juga di dorong oleh komentar pejabat ECB yang menyarankan agar ECB tetap memberikan bantuan likuiditas yang tidak terbatas kepada bank setelah akhir tahun. Ini lebih lama dari yang di harapkan investor.
Nilai tukar JPY terhadap USD menguat dari 86.2 menjadi 85.62. Penguatan JPY yang berlebihan selama ini telah menjadi ancaman, terutama bagi para eksportir. Pertumbuhan GDP yang melambat dan apresiasi JPY yang begitu besar telah meniupkan spekulasi bahwa Pemerintah Jepang akan menyuntikkan dana stimulus untuk merangsang kembali pertumbuhan ekonomi.
Nilai tukar USD terhadap IDR melemah dari 8,978 menjadi 8,973. Di tunjang oleh fundamental ekonomi yang kokoh dan prospek sovereign rating Indonesia di upgrade menjadi investment grade membuat persepsi risiko berinventasi pada aset berdenominasi Rupiah seperti obligasi Pemerintah RI semakin turun, dari 150.11 menjadi 146.53.
Nilai tukar USD/IDR masih akan sulit untuk berada di bawah 8,800 sehingga akan berfluktuasi di kisaran 8,920 - 9,025.