EQUITY MARKET:
Pasar saham dunia, yang diukur menggunakan indeks MSCI World, minggu lalu mengalami kenaikan 2.45% dari 1,124.8 menjadi 1,152.3 seiring dengan berakhirnya earnings season dan adanya tanda tanda ekspansi pada sektor manufaktur dan jasa di AS.
Indeks MSCI Emerging Market menguat 19.5 poin (1.97%) ke level 1,010 dan indeks MSCI Asia Pasifik bertambah 3.3 poin (2.76%) ke level 122.4.
FTSE100 minggu lalu merangkak naik 74.4 poin (1.41%) ke level 5,332.4. Sementara CAC40 bertambah 72.9 poin (2.0%) ke level 3,716. Secara YTD, FTSE100 dan CAC40 masih berada dalam teritori negatif, masing masing -1.5% dan -5.6%. Minggu ini FTSE masih akan bergerak naik dan berusaha bertahan di atas level 3,700. FTSE100 akan berada dalam trading range 5,225 -5,390.
Di Asia, Nikkei225 tumbuh 104.8 poin (1.10%) ke level 9,642 di dorong laporan keuangan yang solid dari sejumlah emiten besar. Hang Seng naik 649 poin (3.09%) ke level 21,678. Minggu ini Nikkei225 masih berpotensi melemah karena JPY yang masih berpeluang menguat dan berada di kisaran 9,550 – 9,710.
Berbeda dengan Nikkei225 dan Hang Seng, IHSG minggu lalu di tutup melemah tipis 8.7 poin (-0.28%) pada level 3,060.6. Indeks saham Blue Chips LQ45 turun 1.07% dari 589.9 menjadi 583.6. Investor asing membukukan net sell sebesar Rp.422 miliar.
Pergerakan downtrend indeks di picu oleh penurunan harga dari saham saham pada sektor Industri Dasar (-3.28%), Manufaktur (-2.73%) dan Aneka Industri (-2.69%). Kejatuhan indeks yang lebih dalam dapat di cegah oleh kinerja saham saham pada sektor Agrikultur (8.2%) dan Pertambangan (2.87%). IHSG minggu ini kami perkirakan akan bergerak menguat dan berada di kisaran 2,998 -3,087.
Indeks saham utama di Wall Street minggu lalu di tutup menguat di atas 1% sehingga memperpanjang rally pada DJIA menjadi 5 minggu berturut turut. Kenaikan ini di topang oleh earnings season yang lebih baik dari tahun lalu. Hampir 78% dari emiten S&P500 yang telah mengeluarkan laporan keuangan berhasil mengalahkan estimasi pasar
DJIA naik 187.6 poin (1.8%) ke level 10,653.6 sementara NASDAQ menguat 33.8 poin (1.5%) ke level 2,288.5 dan S&P500 bertambah 20 poin (1.82%) ke level 1,121.6. Semua indeks utama di Wall Street sudah berada lebih tinggi dari level pada akhir/awal tahun.
Minggu ini perhatian investor akan tertuju pada hasil dari pertemuan FOMC dan penjualan ritel. Investor mengharapkan The Fed mengadopsi kebijakan quantitaive easing untuk menggairahkan akyifitas perekonomian. DJIA minggu ini kami prediksi akan bergerak menguat dan berada di kisaran 10,589 – 10,720 sedangkan nilai VIX yang sebsar 21.74 dapat di artikan volatilitas (naik dan turun) S&P500 untuk 30 hari ke depan tidak melebihi 6.3%.
GOLD:
Harga kontrak berjangka emas untuk bulan Desember 2010 melonjak 1.81% dari $1,183.9 per troy ounce menjadi $1,205.3 per troy ounce, tertinggi dalam 3 minggu seiring melemahnya nilai tukar USD terhadap EUR sehingga menambah daya tarik emas sebagai instrumen investasi. Data COT CFTC tanggal 3 Agustus menunjukkan bahwa jumlah Open Interest (OI) sebanyak 695,147 kontrak, terendah sejak 20 April 2010 dan menandakan aliran dana keluar dari pasar emas. Net Long Position dari spekulator (funds) turun 0.6% sedangkan net short dari produser (commercials) anjlok 1.62% (chart 3). Pada periode yang sama, nilai tukar EUR terhadap USD mulai rebound dari 1.2996 menjadi 1.3231. dengan kata lain, nilai tukar EUR/USD dan harga emas kembali searah atau berkorelasi positif (chart 2). Harga emas minggu ini akan kembali menguat, terutama jika Th Fed memutuskan untuk kembali melakukan kebijakan Quantitative easing yang di pandang oleh investor sebagai signal untuk meninggalkan USD.
CRUDE OIL:
Harga kontrak berjangka minyak mentah untuk bulan September 2010 naik 2.22% dari $78.95/barel menjadi $80.70/barel meskipun data DOE memperlihatkan bahwa persediaan minyak AS di Cushing, Oklahoma untuk minggu yang berakhir 30 Juli mengalami kenaikan (chart 5) seiring melemahnya permintaan yang turun 2.5%.
Data COT CFTC tanggal 3 Agusuts menunjukkan bahwa jumlah Open Interest (OI) naik 1.5% dari 2,54 juta kontrak menjadi 2,84 juta kontrak (chart 4). Net Long Position dari Spekulator besar melompat 15.6% dari 125,865 kontrak menjadi 145,472 kontrak. Kenaikan pada jumlah OI dan Net Long dari spekulator besar merefleksikan adanya aliran dana yang masuk ke pasar minyak seiring membaiknya risk appettite.
Harga minyak minggu ini kami perkirakan akan bergerak cenderung flat karena sepinya sentimen positif. Faktor fundamental yang penting, seperti ekonomi AS, menurut data minggu lalu, bukannya menciptakan lapangan kerja baru, justru menambah jumlah penngangguran. Untuk beberapa waktu ke depan, kami melihat harga minyak akan bergerak dalam kisaran $77.60-$84.50 per barel.
COAL:
Harga batubara yang di kirim melalui pelabuhan Newcastle, Australia minggu lalu turun dari $94.15/MT menjadi $91.87/MT meskipun curah hujan yang besar membuat para produser batubara di Indonesia, eksportir batubara terbesar kedua di dunia, kesulitan memenuhu target produksi. Sebaliknya, harga batubara yang di kirim melalui pelabuhan Richard Bay, Afrika Selatan naik dari $89.60/MT menjadi $90.20/MT. Pembelian batubara Richard Bay oleh India mencapai 2.1 juta MT atau 52% lebih tinggi dari pembelian pada periode yang sama tahun lalu seiring dengan meningkatnya kebutuhan batubara untuk menghasilkan listrik di India.
TIN:
Harga kontrak berjangka 3 bulan Timah di LME minggu lalu naik 6.25% dari $19,505/MT menjadi $20,725/MT, tertinggi sejak 22 Agustus 2008 meskipun jumlah Open Interest berkurang cukup tajam (chart 6) dan persediaan di gudang gudang LME stabil pada level 15,000 ton (chart 7). Selama tahun 2010 ini, harga kontrak timah sudah melejit 20.8%
Volume persediaan (Inventory) Timah naik tipis dari 15,000 ton menjadi 15,040 ton sedangkan jumlah rata rata Cancelled Warrants bertambah dari 6.38% menjadi 6.97% dari total persediaan. Minggu ini harga kontrak Timah masih berpotensi melanjutkan pergerakan naiknya dan berada di kisaran $19,880/MT - $21,190/MT.
NICKEL:
Melanjutkan kenaikan 3.91% pada minggu sebelumnya, harga kontrak berjangka 3 bulan Nickel di LME naik 4.49% dari $21,150/MT menjadi $22,100/MT (chart 8).
Walaupun sempat meningkat lebih dari 118,000 ton, volume persediaan Nickel minggu lalu akhirnya turun tipis 0.14% dari 117,498 ton menjadi 117,336 ton.
Jumlah rata rata Cancelled Warrants naik dari 4.07% menjadi 4.46% dari total persediaan Nickel (Chart 9). Selisih antara harga spot (cash) dan harga kontrak berjangka paling panjang minggu lalu melebar karena kenaikan pada harga spot lebih tinggi dari pada kenaikan harga kontrak berjangka 27 bulan.
Harga Nickel minggu ini kami prediksi masih berpeluang untuk menguat dan berada di kisaran $21,975/MT-$22,400/MT.
CURRENCIES:
Dollar Index, yang di gunakan untuk memonitor nilai tukar USD terhadap 6 mata uang utama di dunia, minggu lalu turun dari level 81.54 ke level 80.41, terendah sejak 15 April 2010 (chart 11) karena masih tingginya tingkat pengangguran AS dan memburuknya sejumlah indikator ekonomi yang memaksa The Fed untuk mempertimbangkan kembali kebijakan quantitative easing yang akan memberi tekanan ke bawah pada yield US Treasury dan imbal hasil (return) dari aset aset yang berdenominasi USD.
Akibatnya, nilai tukar USD terhadap JPY kembali melemah dan berada di level 85.41, terendah dalam 15 tahun, tanda bahwa investor menilai proses pemulihan ekonomi sudah kehilangan momentum sehingga melarikan dananya ke JPY, salah satu safe haven yang dianggap paling aman.
Nilai tukar EUR terhadap USD kembali menguat dan berada di level 1.3280 seiring pudarnya kekhawatiran bahwa krisis sovereign debt di Eropa akan memburuk. Sejumlah data ekonomi yang keluar minggu lalu memperlihatkan adanya perbaikan pada kondisi ekonomi negara negara yang bermata uang EUR.
Nilai tukar USD terhadap IDR terus melemah dari 8,949 menjadi 8.940 setelah BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI rate dan keluarnya data pertumbuhan Q2 2010 GDP Indonesia yang mencapai 6.2% di banding periode yang sama tahun lalu.
Prospek yield yang semakin rendah pada obligasi negara G3 dan berkurangnya volatilitas pada pasar saham, membuat investor yang mengejar yield tinggi masuk ke pasar modal negara sedang berkembang (Emerging Market), tidak terkecuali Indonesia.. Kepemilikan asing atas SUN masih tercatat naik hingga mencapai Rp.177.27 triliun pada tanggal 5 Agustus 2010, dari Rp.172.22 triliun pada minggu sebelumnya. Nilai tukar USD/IDR masih akan sulit untuk berada di bawah 8,800 sehingga akan berfluktuasi di kisaran 8,920 - 9,075.